Rabu 26 Feb 2025 05:53 WIB

Ingatkan Guru tak Bersandar Kurikulum, Founder GSM: Jangan Jadi Ikan Mati Terseret Arus

Guru berkualitas akan mampu menginspirasi murid untuk mencintai ilmu pengetahuan.

Red: Fernan Rahadi
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, berbicara di hadapan 400 guru dari berbagai kota dalam acara acara Ngkaji Pendidikan di Sekolah Dasar Bukit Akasia, Kota Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (22/2/2025).
Foto: GSM
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, berbicara di hadapan 400 guru dari berbagai kota dalam acara acara Ngkaji Pendidikan di Sekolah Dasar Bukit Akasia, Kota Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (22/2/2025).

REJOGJA.CO.ID, SUMEDANG --  Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, mengingatkan agar guru tidak terkekang oleh kurikulum. Ia menyatakan kalau kurikulum hanyalah alat, bukan kitab suci yang menjadi pedoman tidak tergantikan.

Rizal mengatakannya karena masih banyak guru yang menggantungkan diri pada sesuatu yang sementara, seperti kurikulum atau program pemerintah. Menurutnya, guru adalah sang kurikulum itu sendiri yang semestinya dijalankan dengan mindset dan paradigma yang benar, yaitu melibatkan jiwa dan cinta.

"Jangan menjadi ikan mati yang terseret arus. Jadilah ikan hidup yang sesekali ikut atau melawan arus," kata Rizal dalam acara Ngkaji Pendidikan di Sekolah Dasar Bukit Akasia, Kota Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (22/2/2025). 

Dengan jiwa yang merdeka, selain guru menjadi sang kurikulum, mereka juga dapat menjadi teladan di depan atau pendorong di belakang untuk membangkitkan perubahan yang baik dan sabar dalam berproses untuk menentukan nasibnya sendiri di tengah terpaan isu efisiensi anggaran pendidikan.

“Bersabar bukan dengan menerima hasil apa adanya. Bukan nrimo sebagai mitos yang

ditanamkan kolonial, tetapi bersabar dalam menjalankan prosesnya," kata Rizal di hadapan sekitar 400 guru dari berbagai kota, seperti Bandung, Bogor, Cirebon, Pangandaran, Sukabumi, Tangerang, Tegal, Rembang, Pekalongan, Yogyakarta, dan Semarang.

Menurut Rizal, administrasi tetap harus diselesaikan, lebih bagus lagi bila dapat terbantu oleh bantuan teknologi.

"Supaya Anda bertanggung jawab sebagai abdi negara, tetapi jangan sampai hal itu membuat Bapak dan Ibu guru lupa untuk mengajar dengan budi dan jiwa," kata dosen Universitas Gadjah Mada tersebut.

Rizal meyakini kualitas pendidikan lebih ditentukan oleh kualitas pengajarnya daripada kurikulum atau faktor eksternal lainnya. Guru yang berkualitas akan mampu menginspirasi murid-muridnya untuk mencintai ilmu pengetahuan dan memberi dampak lifelong learning, ketimbang guru dengan kualitas biasa, sekalipun mereka menggunakan sistem kurikulum yang canggih.

Kualitas guru juga amat ditentukan oleh paradigma yang selaras dengan tujuan moral pendidikan. Ketika sudah sesuai, baru kemudian, teknis mengajar dan konten kurikulum akan menyusul. Paradigma pengajar yang dimaksud adalah berjiwa merdeka dan optimistis dalam kondisi apa pun, termasuk efisiensi APBN.

"Jangan sampai atas nama kurikulum, metode, atau administrasi malah menghambat keinginan berpikir anak-anak kita. Soalnya, berpikir adalah kodrat alamiah manusia. Jika itu terjadi maka akan menjadi dosa. Jadikan anak berdaulat agar bisa memberi dampak kepada sekitar," kata Rizal.

Efisiensi anggaran terutama untuk ranah pendidikan memanglah mengkhawatirkan. Tidak hanya kualitas pendidikan, kesejahteraan para pengajar juga bisa terdampak imbasnya.

"Layangan protes boleh saja dilakukan oleh para guru, asal jangan sekalipun menyerah pada keadaan karena dengan para guru tetap berjuang dan bergerak maka itu merupakan bukti nyata bahwa mereka adalah individu yang merdeka. Insan yang tidak terikat pada jeratan kebendaan yang membelenggu," kata Rizal.

Seorang guru di SMK Negeri yang juga merupakan pegiat GSM Jawa Tengah, Muhammad Ali Sodikin menyampaikan komentarnya terkait acara Ngkaji Pendidikan. “Ngkaji bukan sekadar forum, tetapi merupakan perjalanan batin seorang pendidik menemukan dirinya sendiri. Ngkaji Pendidikan menyadari para guru bahwa mendidik bukan hanya tentangmengajar, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih utuh,” ucapnya.

Berikutnya adalah pendapat dari salah satu pegiat GSM Tangerang Selatan yang kerap disapa dengan panggilan Kang Sis terkait cara membenahi pendidikan Indonesia.

“Untuk saya, memperbaiki pendidikan tidak selamanya harus melalui pemberontakan, tetapi cukup dengan berani bertindak. Tindakannya dapat dilakukan lewat dialog, inovasi, dan aksi nyata," kata Kang Sis.

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement