Kasubsi Bimbingan Kerja dan Hasil Pengelolaan Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang, Endah, mengungkapkan, setiap tahun menjelang Lebaran, bimker Bakery Paramesti Maheswari selalu menerima pesanan kue kering. Untuk tahun ini, terdapat empat warga binaan yang terlibat untuk menggarap pesanan.
"Tapi kalau ada pesanan yang banyak, kami akan kerahkan teman-teman yang lain untuk membantu, baik untuk proses pencetakan, pengemasan, maupun pemanggangan," kata Endah.
Kendati demikian, Endah mengungkapkan, tidak semua narapidana bisa dilibatkan di Bakery Paramesti Maheswari. Mereka harus melewati tahapan seleksi dulu sebelumnya. Hal itu agar proses produksi benar-benar dilakukan oleh para warga binaan yang sudah mengerti cara membuat kue sebelumnya.
Endah menjelaskan, untuk proses pembuatan kue, pihaknya menyediakan bahan-bahan premium. "Dari menteganya, dari kejunya, semua bahan premium yang harganya kalau sekarang sudah naik semua. Jadi keistimewaan kami adalah bahan yang kami pilih adalah bahan premium," ucapnya.

Kue-kue kering yang diproduksi warga binaan untuk momen Lebaran dijual dengan harga antara Rp45-Rp70 ribu per stoplesnya. Namun ada pula yang dijual dalam bentuk parsel dengan harga sekitar Rp300 ribuan.
Menurut Endah, salah satu pemesan kue kering di Bakery Paramesti Maheswari adalah warga Lapas Kelas IIA Semarang itu sendiri. "Biasanya untuk keluarga. Jadi nanti ketika besukan Lebaran, mereka (napi) membawakan keluarganya kue-kue kering yang dibuat di lapas perempuan sebagai oleh-oleh buat keluarga mereka. Jadi warga binaan turut merasakan vibes-nya Lebaran," ucapnya.
Selain itu, pesanan kue kering juga datang dari para pegawai di bawah naungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. "Kemarin yang sudah pesan dari Rupbasan Cilacap, ada temen yang dari bapas (balai pemasyarakatan), dari Lapas Kelas I (Semarang). Jadi masih internal sesama teman kementerian," kata Endah.
Endah menjelaskan, dari setiap penjualan pesanan kue kering, warga binaan yang terlibat dalam proses produksi akan memperoleh premi. Besaran premi yakni 35 persen.
"Setelah kami hitungkan preminya, kami masukkan ke register uang khusus. Jadi ketika mereka pulang (bebas), bisa ambil uang itu di registrasi. Jadi mereka tidak memegang uang tunai, uangnya kita setorkan ke bagian registrasi," ucapnya.
Kendati demikian, Endah menambahkan, premi tersebut juga dapat digunakan ketika warga binaan masih berada di dalam lapas. Premi akan ditransfer ke uang elektronik mereka.
"Kalau mau dipakai, misalnya untuk kebutuhan mereka, satu minggunya bisa di-top up pakai Brizzi-nya mereka masing-masing. Nanti bagian registrasi yang akan top up. Misalnya mereka punya saldo diregistrasi Rp 1 juta, lalu ingin top up di Brizzi Rp 1 juta, yasudah nanti di-top up setiap hari Kamis di registrasi. Kalau pas pulang kami kasihkan uangnya tunai," ucap Endah.