Sabtu 04 Feb 2023 12:56 WIB

Guguran Lava Merapi Tercatat Enam Kali, Intensitas Kegempaan Masih Tinggi

Status aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan dalam tingkat siaga.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Luncuran lava pijar keluar dari kawah Gunung Merapi terlihat dari Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.
Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
Luncuran lava pijar keluar dari kawah Gunung Merapi terlihat dari Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Guguran lava Gunung Merapi terjadi sebanyak enam kali dalam sepekan ini, berdasarkan pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY pada 27 Januari hingga 2 Februari. Guguran lava tersebut mengarah ke arah barat daya yakni ke hulu Kali Bebeng dan Kali Sat/Putih.

Kepala BPPTKG DIY, Agus Budi Santoso, guguran lava terjadi dengan jarak luncur maksimal 1.800 meter. "Suara guguran terdengar dari Pos Babadan sebanyak lima kali dengan intensitas kecil hingga sedang," kata Agus, Sabtu (4/2/2023).

Pada kubah tengah dan kubah barat daya Merapi, kata Agus, tidak teramati adanya perubahan yang signifikan terhadap pertumbuhan kubah lava. "Berdasarkan foto udara pada 13 Januari 2023, volume kubah barat daya terukur sebesar 1.598.700 meter kubik dan kubah tengah 2.267.400 meter kubik," ujar Agus.

Sedangkan, untuk intensitas kegempaan Merapi selama sepekan ini masih cukup tinggi. Pihaknya tercatat terjadi 707 kali gempa Vulkanik Dalam (VTA), 16 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 61 kali gempa Fase Banyak (MP), 194 kali gempa Guguran (RF), empat kali gempa Hembusan (DG), dan sembilan kali gempa Tektonik (TT).

"Pemantauan deformasi Gunung Merapi pada pekan ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan," jelas Agus.

Selain itu, pihaknya juga mengamati selama sepekan ini terjadi hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi, dengan intensitas curah hujan sebesar 10 mm per jam selama 155 menit di Pos Kaliurang pada 28 Januari 2023. Meski demikian, tidak dilaporkan adanya penambahan aliran maupun lahar dari sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Dari hasil pengamatan tersebut, pihaknya menyimpulkan aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi, yakni berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas Gunung Merapi pun masih ditetapkan dalam tingkat siaga.

Sementara itu, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya. Yakni meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.

"Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif, dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak," tambahnya.

Untuk itu, masyarakat diminta agar tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya. Termasuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Merapi. "Juga mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di seputar Merapi," lanjut Agus.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement