Jumat 02 Sep 2022 23:31 WIB

Bangau, Bantal Anti Bakteri-Tungau Kreasi Mahasiswa

Ide diawali keprihatinan atas persoalan eutrofikasi eceng gondok.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Fakhruddin
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Alda Anisah (kiri), Marsyela Tri Aryani (tengah) dan Silvia Rahmawati (kanan) menunjukan bantal berbahan limbah sabut kelapa, enceng gondok, dan ekstrak daun sirih yang diberi nama BANGAU (Bantal Antibakteri dan Tungau) saat jumpa pers di UGM, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (2/9/2022). Karya yang dibuat oleh lima mahasiswa itu merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan yang didanai oleh Kemendikbudristek tahun 2022.
Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Alda Anisah (kiri), Marsyela Tri Aryani (tengah) dan Silvia Rahmawati (kanan) menunjukan bantal berbahan limbah sabut kelapa, enceng gondok, dan ekstrak daun sirih yang diberi nama BANGAU (Bantal Antibakteri dan Tungau) saat jumpa pers di UGM, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (2/9/2022). Karya yang dibuat oleh lima mahasiswa itu merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan yang didanai oleh Kemendikbudristek tahun 2022.

REPUBLIKA.CO.ID,SLEMAN -- Mahasiswa UGM mengembangkan bantal antibakteri dan tungau berbahan limbah sabut kelapa, eceng gondok dan ekstrak daun sirih. Produk ini diberi nama Bangau yang merupakan singkatan dari Bantal Antibakteri dan Tungau.

Bangau mencegah potensi munculnya tungau, alergi dan penyebab alergi berbahaya bagi kesehatan. Dikembangkan Marsyela Tri Aryani, Silvia Rahmawati, Alda Anisah, Rizal Aziz Pradana (Sekolah Vokasi) dan Luthfia Uswatun Khasanah (Biologi).

Baca Juga

Mereka dibimbing Saiqa Ilham Akbar melalui PKM bidang Kewirausahaan yang didanai Kemendikbudristek. Marsyela mengatakan, ide diawali keprihatinan atas persoalan eutrofikasi eceng gondok yang merusak perairan karena pertumbuhan relatif cepat.

Selain itu, ditambah dengan keprihatinan mereka akan banyaknya limbah sabut di masyarakat yang belum termanfaatkan dengan baik. Melihat fenomena itu, ia dan keempat rekannya memutar otak mencari solusi guna mengatasi persoalan yang ada.

Setelah kajian pustaka jurnal-jurnal, eceng gondok berpotensi sebagai tanaman obat. Ada kandungan senyawa aktif fenol, flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, steroid dan glikosida sebagai antioksidan, antijamur, antibakteri dan antikanker.

"Jadi, kami ingin mengolah limbah-limbah tersebut dan berfikir mengembangkan produk yang lekat dengan kebutuhan manusia berbahan kedua limbah itu. Lalu, tercetus ide membuat bantal," kata Marsyela di Fortakgama UGM, Jumat (2/9/2022).

Mereka merancang produk bantal antibakteri dan tungau dengan konsep natural, 100 persen bahan alami mulai isian sampai luaran bantal. Produk tidak cuma mengurai persoalan lingkungan, tapi menghadirkan produk yang bermanfaat bagi kesehatan.

Guna mencegah pertumbuhan bakteri, mereka manfaatkan daun sirih yang mengandung senyawa sebagai antibakteri. Ada pula minyak atsiri yang berperan mematikan agen Sarcoptes scabiei hentikan aktivitas tungau agar permukaan luka tidak memburuk.

Produksi diawali penganyaman eceng gondok kering menjadi berbentuk lilitan kecil maupun sedang. Anyaman direbus ekstrak daun sirih agar ekstrak dapat tercampur merata. Dilakukan pengeringan dan penyemprotan ekstrak daun sirih secara merata.

Lalu, anyaman dimasukkan ke plastik selama 12 jam agar ekstrak daun sirih dapat meresap ke anyaman. Pengolahan mengubah sabut jadi tekstur seperti benang untuk isian melalui beberapa tahapan seperti pemutihan, penghalusan dan pengeringan.  

Tahapan terakhir dilakukan dengan memasukan serat woll dari sabut kelapa dan limbah biji kapuk randu untuk menambah volume bantal sebelum penjahitan. Marsyela menuturkan, adapun produk Bangau dibuat berbentuk segi empat.

"Berukuran 35x35 centimeter berwarna coklat bernuansa alami dan tradisional," ujar Marsyela.

Alda menuturkan, untuk memasarkan mereka menggunakan website dan media sosial seperti Instagram, Tiktok dan Facebook. Konsumen bisa melakukan pemesanan melalui Whatsapp dan marketplace seperti Shopee, Tokopedia dan Lazada.

Penjualan secara offline secara bertahap akan dilakukan dengan home industry yang telah siap dipasarkan ke konsumen. Mereka menjual Bangau disertai cairan spray antibakteri 30 mililiter. Satu paket produk dibanderol seharga Rp 115.000.

"Kami juga melakukan pelayanan purna jual kepada konsumen yaitu memberikan pelayanan reparasi dan atau penggantian produk cacat selama masa garansi, serta pemberian diskon kepada pelanggan pada hari-hari besar tertentu," kata Alda.

Silvia menambahkan, perawatan mudah, tidak perlu mengganti sarung bantul, cukup dijemur di bawah sinar matahari, spray antibakteri dan dianginkan. Walau tidak ada fungsi kesehatan, Bangau mengoptimalisasi pemanfaatan sumber daya hayati.

"Bangau hadir sebagai alternatif pengganti bantal kapuk dan sintetis yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas tidur pengguna dan merasa aman karena ada fungsi kesehatan sebagai antibakteri dan tungau," ujar Silvia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement