Ahad 01 May 2022 13:19 WIB

'Zakat Fitrah Menumbuhkan Semangat Saling Berbagi Menuju Jiwa yang Fitri'

Zakat fitrah hendaknya juga dijadikan momentum bagi umat untuk mendesain ulang diri.

Ilustrasi Zakat Fitrah
Foto: Foto : MgRol_92
Ilustrasi Zakat Fitrah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sedekah, infak dan zakat fitrah merupakan instrumen untuk membentuk pribadi yang pandai untuk saling berbagi dan membangun empati terhadap penderitaan serta kesulitan yang lain. Wakil Direktur Eksekutif Internasional Conference of Islamic Scholar (ICIS), KH Khariri Makmun menilai bahwa makna puasa dan zakat fitrah dalam bulan suci Ramadhan sejatinya guna menumbuhkan rasa empati dan memfitrahkan diri untuk kembali menjadi manusia yang fitri.

"Salah satu di antara hikmah kenapa Allah mewajibkan puasa itu di antaranya adalah menumbuhkan rasa empati kepada orang lain, disempurnakan dengan Zakatul Fitri, memfitrahkan diri kita sendiri,"  ujar KH Khariri Makmun di Jakarta, Sabtu (30/4/2022).

Ia melanjutkan, dengan zakat fitrah sebagai bagian dari amalan di bulan suci, maka hendaknya juga dijadikan momentum bagi umat untuk mendesain ulang diri agar tunduk dengan kemauan sang Ilahi, yang bisa dikendalikan untuk kepentingan beribadah dan menjadi manusia yang fitri.

"Karena dengan menzakati atau memfitrahkan diri kita sendiri kemudian kita menata ulang, me-reset ulang, mendesain kembali nafsu kita agar tunduk dengan kemauan illahi atau Allah,”terangnya.

Pria yang juga Wakil Sekretaris Komisi Dakwah Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menilai bahwa masyarakat perlu memahami hikmah berzakat dan berpuasa. "Termasuk jika kita kaitkan dengan era sekarang, era dimana orang tidak bisa meninggalkan diri dari sosial media. Di mana didalamnya banyak terisi konten negatif yang memicu untuk kita meninggalkan ucapan serta perbuatan buruk di dalamnya," jelasnya.

Sehingga, karena esensi puasa dan zakat guna menjadikan jiwa suci dan semakin bertakwa, maka implikasinya ialah dengan mengendalikan ucapan, terutama dalam bermedia sosial, menjauhkan diri dari tulisan yang bisa memprovokasi orang lain untuk permusuhan, serta untuk membenci orang lain.

"Di dalam hadits, Rasul mengatakan, ‘Barangsiapa berpuasa tapi tidak bisa meninggalkan ucapan yang buruk, dan juga tidak bisa meninggalkan perbuatan yang buruk maka tidak ada gunanya dia meninggalkan makan minum’. Karena esensi puasa kan jiwa semakin suci, semakin bertaqwa,”ujar Khariri.

Terlebih saat ini sudah mendekati idul fitri, menurut pria yang juga pengasuh Ponpes Algebra di Ciawi ini mengatakan bahwasanya momen ini juga bisa  dimaknai ini sebagai momentum kemenangan diri dalam melawan virus keburukan dalam hati.

"Artinya nanti 1 Syawal itu kita kembali ke fitrah dan menang melawan hawa nafsu termasuk kita mengembalikan fitrah dalam beragama itu harus moderat, tidak terjebak dengan cara beragama yang radikal dan fundamental, tapi menjadi umat islam yang moderat," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement