Kamis 09 Dec 2021 16:18 WIB

UII Yogyakarta Salurkan Hibah Bina Lingkungan

Permasalahan sampah di Indonesia karena masih rendahnya kesadaran masyarakat.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
Kampus UII Yogyakarta.
Foto: Wahyu Suryana.
Kampus UII Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta memberikan hibah bina lingkungan ke Jejaring Pengelolaan Sampah Mandiri (JPSM) Sehati di Kelurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah. Ini salah satu hibah Inisiasi Pusat Edukasi Sekolah Sampah.

Hibah secara simbolis diserahkan Sekretaris Prodi Teknik Lingkungan UII, Dr Awaluddin Nurmiyanto, kepada Ketua JPSM Sehati, Dr Hijrah Purnama Putra. Penyerahan hibah turut dihadiri masyarakat pemerhati lingkungan dan anggota-anggota JPSM Sehati.

Dalam sambutannya, Awaluddin menyatakan kesiapan dari Prodi Teknik Lingkungan UII untuk menerima masukan dan kritik membangun. Serta, memberi pendampingan kepada anggota-anggota (JPSM) Sehati maupun masyarakat secara lebih luas lagi. "Terutama, tentang pengelolaan sampah secara mandiri," kata Awaluddin, Kamis (9/12)

Sedangkan, Hijrah berharap, kedua pihak dapat saling bertukar pengalaman ilmu pengelolaan sampah seperti edukasi bank sampah kepada anggota-anggota. Untuk menguatkan pemahaman dan sinergi sudah digelar 10 webinar diikuti JPSM Sehati.

"Hibah tersebut akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas JPSM Sehati dalam memberdayakan peran anggota-anggota mengelola sampah," ujar Hijrah.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Dwi Anta Sudibya menilai, pengelolaan sampah sebenarnya sangat bergantung terhadap pola pikir masyarakat. Karenanya, ia menekankan, masyarakat perlu ditunjukkan paradigma baru tentang sampah. "Bahwa sampah dapat bernilai rupiah dengan penanganan yang tepat," katanya.

Pada kesempatan itu, pendiri Banyuwangi Osoji Club, dr Bintari Wuryaningsih menerangkan, permasalahan sampah di Indonesia karena masih rendahnya kesadaran masyarakat. Bahkan, masyarakat masih sangat suka membuang sampah sembarangan.

Selain itu, teknologi pengolahan sampah di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara lain, sehingga sampah belum dapat diolah secara maksimal. Sampah akhirnya jadi sumber permasalahan dan sumber bencana yang terjadi di Indonesia.

Untuk itu, sepatutnya sampah menjadi pekerjaan rumah bersama bagi masyarakat dan pemerintah. Bintari turut mengenalkan paradigma baru yang melihat sampah sebagai bahan baku daur ulang, sumber energi baru terbarukan, menjadi berkah dan rupiah.

Paradigma ini perlu terus digaungkan yakni diawali dengan memilah sampah rumah tangga dari rumah masing-masing. Dalam pengelolaan sampah memilah menjadi yang utama untuk dapat memudahkan langkah-langkah pengolahan sampah selanjutnya.

Pemilahan sampah akan mereduksi jumlah sampah yang dibawa ke tempat pembuangan akhir, sehingga memperpanjang umur penggunaan. Paradigma lama pengelolaan sampah yang dikumpul dan diangkut ke tempat pembuangan akhir sudah ketinggalan zaman. "Karena hanya memindahkan masalah ke tempat lain," ujar dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement