Senin 22 Nov 2021 10:11 WIB

Saat Anak ‘Ambil Alih’ Peran Pemangku Kebijakan

Beragam problem dan persoalan anak di Jateng menjadi topik sentral pembahasan.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Tangkapan layar kegiatan Kids take Over (KTO) Pemerintahan dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia tingkat Jawa Tengah yang digelar secara virtual, Sabtu (20/11). Kegiatan ini didukung oleh DP3AP2KB Jawa Tengah, UNICEF, Yayasan Setara, Akatara Jurnalis Sahabat Anak, Forum Anak Jawa Tengah serta Anak Pelopor Kebaikan Jawa Tengah.
Foto: dok. Istimewa
Tangkapan layar kegiatan Kids take Over (KTO) Pemerintahan dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia tingkat Jawa Tengah yang digelar secara virtual, Sabtu (20/11). Kegiatan ini didukung oleh DP3AP2KB Jawa Tengah, UNICEF, Yayasan Setara, Akatara Jurnalis Sahabat Anak, Forum Anak Jawa Tengah serta Anak Pelopor Kebaikan Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Peringatan World Children's Day (Hari Anak Sedunia) tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun ini menjadi sangat spesial. Sebab kepemimpinan daerah di Jateng telah ‘diambil alih’ oleh anak, pada Sabtu (20/11) lalu.

Bukan Ganjar Pranowo yang menjadi Gubernur Jateng pada hari itu. Bukan pula Retno Sudewi yang menjadi Kepala Dinas Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jateng.

Bahkan 33 kepala daerah berikut masing-masing kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) tak luput diambil alih oleh anak.

Sekali lagi semua itu nyata dan bukan bualan. Anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Jateng mengambil alih posisi pemimpin pemerintahan serta kepala Dinas PPPA selama satu hari, dalam kegiatan ‘Kids Take Over’ (KTO) Pemerintahan, guna memperingati Hari Anak Sedunia.

Lantas, apa jadinya ketika kepemimpinan daerah di Jateng diambil alih oleh anak? Sudah pasti yang mereka kerjakan pada hari itu pun tak jauh-jauh dari isu serta berbagai hal yang berorientasi pada kebutuhan dan kepentingan anak secara luas.

Beragam problem dan persoalan anak di Jateng mengemuka dan menjadi topik sentral pembahasan ‘Mas Gubernur’ dengan kepala daerah dan kepala Dinas PPPA KTO se-Jateng tersebut.

Mulai dari persoalan kesehatan mental anak selama masa pandemi Covid-19, penanganan anak yang mendadak harus menyandang yatim-piatu akibat orang tuanya terdampak pandemi, pentingnya vaksinasi Covid-19 bagi anak, dan nasib layanan pendidikan di masa pandemi.

Bahkan meningkatnya angka perkawinan anak, kekerasan pada anak di lingkungan keluarga, hingga hak-hak yang secara keniscayaan harus didapatkan anak di Jateng juga tak luput menjadi topik yang hangat dalam diskusi para kepala daerah KTO tersebut melalui Zoom Meeting.

Semua mampu dilakukan dengan lancar dan meyakinkan, dalam kegiatan yang diinisiasi oleh DP3AP2KB Jateng, Yayasan Setara, Akatara Jurnalis Sahabat Anak, dan UNICEF Indonesia itu.        

M Pratomo Ambar Bawono misalnya yang mengambil posisi sebagai gubernur Jateng KTO, saat memimpin rapat koordinasi membahas penanganan kesehatan mental  anak-anak  yang terdampak pandemi Covid-19 bersama jajaran kepala Dinas PPPA KTO.

“Gembira rasanya, se-hari menjadi orang yang memiliki pengaruh dalam pemerintahan. Karena bisa menuangkan berbagai pemikiran dan gagasan dalam kebijakan maupun dalam menyelesaikan masalah-masalah di daerah,” jelasnya.

Siswa SMAN 7 Surakarta ini juga mengaku, menjadi gubernur KTO juga menjadi pengalaman beharga baginya. “Saya jadi tahu, bagaimana Pak Ganjar menyampaikan sesuatu dan berhadapan dengan para bupati/wali kota maupun dengan publik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Provinsi Jateng KTO, Wulandari Mega Pratiwi, menyampaikan ada tantangan tersendiri menjadi pimpinan OPD KTO yang membidangi bebgaai kebijakan tentang perlindungan anak.

Karena ia harus mampu menjelaskan banyak hal tentang persoalan-persoalan terkini anakdi Jateng berikut solusinya. “Ternyata memang demikian tugas seorang kepala OPD, menguasai masalah apapun yang berkaitan dengan anak. Tapi ini pengalaman menarik,” ujar siswi SMAN 1 Temanggung ini.

Tak hanya pimpinan daerah KTO, sebanyak 10 anak Pelopor Kebaikan di Jat juga meengngambil alih posisi jurnalis di Radio Elshinta di Semarang dan harian Radar Semarang.

Sebelumnya, mereka juga telah mendapatkan pembekalan singkat untuk menjadi awak media. Mereka yang terdiri atas Rizqi, Annisa, Nadin, Hawila, Zahra, Hafshah, Afifah, Auladdin, Rinjani, dan Nayla menjadi reporter dan penyiar.

Mereka juga melakukan siaran langsung dari studio Elshinta dan ikut terlibat dalam rapat redaksi dan persiapan pemuatan berita online dan cetak di Radar Semarang. “Mereka juga meliput kegiatan Kids Take Over pemerintahan,” ungkap Akatara Jurnalis Sahabat Anak, Suherdjoko.

Ekspresikan gagasan

Sementara itu, Christina Ningrum selaku fasilitator Forum Anak Provinsi Jateng menjelaskan tema kesehatan mental anak dipilih karena melihat dampak dari situasi pandemi pada anak-anak.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Forum Anak ada 77,5 persen anak mengakui sering terjadi perundungan di dunia online selama masa pandemi. “Karena pemanfaatan fasilitas internet yang melonjak,” jelasnya.

Khusus terkait kegiatan KTO Pemerintahan, dalam rapat koordinasi ini pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana pentingnya memastikan suara anak terus terdengar dan dipertimbangkan para pemangku kebijakan, terutama dalam berbagai isu yang berdampak terhadap hak-hak anak.

Sebab dalam survei yang dilakukan oleh UNICEF dan Gallup juga memperlihatkan bahwa lebih dari 50 persen anak-anak dan anak muda mendapatkan tekanan lebih tinggi untuk merasa sukses.

“Sementara itu 29 persen anak-anak atau 1 dari 3 anak juga sering merasa depresi atau kurang memiliki ketertarikan untuk beraktivitas akibat tingginya tekanan tersebut,” jelasnya.

Kepala DP3AP2KB Provinsi Jateng menyampaikan, semua kegiatan iini dirancang oleh anak-anak. Ternyata semua mampu mengangkat dan membahas isu-isu yang berkaitan dengan anak.

“Saya yang di-take over oleh Mega pun terharu. Anak-anak yang terlibat ini wawasannya luas dan mampu memberikan pemikiran bagi sejumlah solusi,” jelasnya.

Sedangkan Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Surabaya, Ermi Ndoen menjelaskan, dari pelaksanaan KTO Pemerintahan ini menunjukkan bocah di Jateng optimistis untuk masa depannya yang lebih baik dan sukses. Maka para pemimpin di mana pun amat perlu mendengar suara mereka.

Melalui kegiatan KTO pemerintahan, lanjutnya, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk bisa mengekspresikan gagasannya dengan berbagai permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari,

“Seperti bagaimana anak merasa terintimidasi di masa pandemi, kondisi kesehatan mental dan perlindungan bagi anak yang kehilangan orang tua/pengasuh utama di masa pandemi dan pendidikan di masa pandemi yang juga berdampak pada kesehatan mental mereka,” ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement