Rabu 29 Sep 2021 23:32 WIB

Pelatihan Usaha Pondok Wisata di Probolinggo Tekankan Prokes

Pondok wisata yang melanggar prokes sebanyak dua kali akan mendapat keputusan.

Pengunjung menunjukan buah stroberi yang dipetik di tempat wisata petik buah stroberi di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2020).  Petani di kawasan tersebut berharap mendapatkan pemahaman terkait normal baru seiring rencana pembukaan kembali wisata Gunung Bromo di tengah pendemi COVID-19.
Foto: ANTARA/Zabur Karuru
Pengunjung menunjukan buah stroberi yang dipetik di tempat wisata petik buah stroberi di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2020). Petani di kawasan tersebut berharap mendapatkan pemahaman terkait normal baru seiring rencana pembukaan kembali wisata Gunung Bromo di tengah pendemi COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID, PROBOLINGGO -- Kegiatan pelatihan usaha homestay atau pondok wisata yang digelar di Kota Probolinggo, Jawa Timur harus tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat seiring dengan rencana dibukanya objek wisata di kota tersebut.

"Kami ajak pengelola dan pengusaha untuk duduk bersama memikirkan supaya tetap bisa melangkah di situasi pandemi dengan catatan harus sesuai dengan protokol kesehatan," kata Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin saat membuka pelatihan homestay.

Pelatihan yang digelar oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo diikuti 40 peserta dari kelompok sadar wisata, pengelola wisata, dan pondok pesantren yang dilaksanakan selama tiga hari pada 27-29 September 2021 dengan narasumber dari Asosiasi Desa Wisata Indonesia Andi Yuwono.

"Kepariwisataan merupakan bagian integral pembangunan nasional dan perlu dipahami bersama. Pemerintah ingin geliat destinasi wisata lebih siap dan matang dalam situasi dan kondisi pandemi," tuturnya.

Ia mengatakan pemerintah melalui dinas terkait terus memberikan sosialisasi, gambaran dan konsep sehingga para peserta pelatihan mempunyai sudut pandang yang berbeda dan siap melangkah.

"Memang awalnya sulit mengubah pola lama ke pola baru, seakan-akan menyulitkan. Jika tidak mau beradaptasi ke kebiasan baru, sama halnya menolak adanya geliat ekonomi di sektor wisata, jadi butuh keterlibatan bersama dan mau berbenah," katanya.

Wali kota yang biasa dipanggil Habib Hadi itu menjelaskan pihaknya memiliki catatan khusus bagi pengunjung yang menginap atau menikmati situasi alam yang disajikan tetapi tidak menerapkan protokol kesehatan, maka masyarakat sangat mudah untuk protes.

"Apabila itu terjadi akan ada peringatan, sampai kedua kali ada pembiaran, maka dengan terpaksa harus diambil keputusan. Sebelum itu terjadi, melalui forum ini sebagai wadah untuk bersama-sama melakukan hal yang terbaik dan sinergi antara kebijakan pemerintah dengan para pelaku usaha, pengelola homestay dan pondok wisata," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement